Home Blog

APSSI 2023, Sosiologi Dibutuhkan untuk Perkembangan Ilmu Pengetahuan

0
pijarkata.com - Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila) berkesempatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan lokakarya nasional Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI) tahun 2023. (rls)

pijarkata.com – Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila) berkesempatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan lokakarya nasional Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI) tahun 2023.

Tema yang diusung adalah “Penguatan Keahlian Sosiologi Dalam Mengembangkan Kurikulum OBE dan MBKM Serta Pengembangan Kapasitas Laboratorium”. Lokakarya Nasional Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI) dilaksanakan pada Rabu,1 November 2023, di Hotel Emersia, Bandar Lampung.

Kegiatan Lokakarya Nasional Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI) tersebut dibuka oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unila Dr. Habibullah Jimad, mewakili Rektor Unila.

Habibullah menyampaikan lokakarya ini dapat memberikan perkembangan lulusan sosiologi di Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa kemampuan sosiologi saat ini sangat dibutuhkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan ilmu sosiologi dan ilmu sosial di tingkat regional dan global.

Pembukaan lokakarya juga dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk Prof. Amrulla Octavian, selaku Dewan Pakar APSSI dan Wakil Ketua Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dr. Arie Sujito selaku Ketua Umum Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) periode 2023-2027 yang juga Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Gajah Mada.

Lalu Ketua APSSI Dr. Harmona Daulay, dan beberapa tokoh sosiologi ternama lainnya. Ketua Pelaksana Loknas APSSI sekaligus Ketua Jurusan Sosiologi FISIP Unila yaitu, Dr. Bartoven Vivit Nurdin, melaporkan kegiatan ini memiliki tiga narasumber, termasuk Dr. Hari Wibawanto dari Kemendikbudristek, Dr. Nadia Yovani, dari Universitas Indonesia, dan Dr. Sulastri Sardjo, dari Laboratorium Sosiologi Universitas Indonesia.

Kegiatan Lokakarya nasional APSSI dihadiri perwakilan dari berbagai program studi Sosiologi perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. (rls)

Play Camp, Cara Asyik Belajar Luar Rumah

0
Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara (STTN) bekerja sama dengan Komunitas Sahabat Becik Lampung mengadakan acara Play Camp pada tanggal 2-3 September 2023 bertempat di Villa Cozzy, Kemiling, Bandar Lampung. (ME)

pijarkata.com – Seorang teman menghubungi saya malam-malam dan menceritakan dia baru saja ribut dengan suaminya. Kali ini keributan mereka katanya lumayan parah.

Masalahnya masih tetap sama dengan masalah yang dia ceritakan beberapa bulan sebelumnya. Mertua atau orang tua suaminya protes karena sampai saat ini anak mereka yang sudah berusia sembilan tahun, tidak sekolah formal dan memilih untuk sekolah rumah. Bahasa kerennya homeschooling.

Teman saya ini, berpikir keluarga suaminya susah bisa menerima keputusannya untuk tidak menyekolahkan si anak di sekolah formal. Dia beralasan, kalau dia tidak mau anaknya stres dengan jadwal belajar full day di beberapa sekolah yang dia datangi. Ada sekolah yang tidak memberlakukan sistem full day tapi dia melihat standar sekolah tersebut jauh di bawah ekspektasinya.

“Aku nggak mau kalau anakku sekolahnya asal-asalan,” ungkapnya yang tidak bersedia namanya disebutkan, karena alasan yang cukup masuk akal.

Sejak awal saya sudah mengatakan, tantangan terbesar dalam menjalankan sekolah rumah ya justru dari orang-orang terdekat kita. Terutama pasangan. Kalau ide sekolah rumah hanya ada di kepala salah satu orang, maka si pasangan biasanya menjadi orang pertama yang akan memberikan penolakan.

Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara (STTN) bekerja sama dengan Komunitas Sahabat Becik Lampung mengadakan acara Play Camp pada tanggal 2-3 September 2023 bertempat di Villa Cozzy, Kemiling, Bandar Lampung. (ME)

Andai urusan dengan pasangan sudah sekapat pun, masih ada kakek dan nenek dari kedua belah pihak yang juga merasa berhak mengurus pendidikan cucu mereka.

Sekolah rumah memang bukan sesuatu yang lumrah di masyarakat kita. Ketika saya sendiri memilih sekolah rumah untuk anak saya hingga dia lulus SD, pihak keluarga langsung bereaksi dengan memberikan pertanyaan, kalau nggak sekolah mau jadi apa? Kalau nggak sekolah, nanti gimana sosialisasinya?

Padahal menurut pengalaman saya, sekolah formal bukan satu-satunya yang bisa menjamin masa depan anak akan baik-baik saja. Sekolah formal pun bukan satu-satunya tempat untuk anak saya bersosialisasi.

Mereka berpikir anak yang tidak sekolah formal itu adalah anak yang bodoh, nakal, pemalas, atau karena orang tuanya yang tidak mampu untuk membiayai. Alasan terakhir ini sama persis seperti yang dialami teman saya.

“Ibuku bilang, sini anakmu Ibu urus kalau kamu nggak bisa biayain sekolahnya. Biar sekolah sama Mbahnya aja. Di sini banyak sekolah negeri murah. Wis nggak usah mikirin apa-apa.” Dia menjelaskan ucapan ibu mertuanya beberapa hari yang lalu.

“Terus kamu jawab apa?”

“Aku diemin aja. Tapi sekarang ini aku pusing, suamiku udah ikut-ikutan bela keluarganya. Dia mau anaknya masuk sekolah formal. Katanya dia udah pusing dengerin omongan keluarganya. Aku juga sebetulnya pusing. Ibuku kan guru, sama kayak mertuaku dikit-dikit nanyain sekolah. Kalau ibuku nggak terlalu sering, soalnya sudah tahu aku pasti bakalan marah. Lah mertuaku iki yang bikin aku mumet. Apalagi kalau suamiku sudah ikut omongan mertua. Mau pecah kepalaku.” Dia bicara hampir tanpa titik koma.

Tugas Ekstra Orangtua pada Sekolah Luar Rumah

Bukan hanya saya dan teman saya. Masih banyak ibu-ibu muda lainnya yang sedang mengalami kebingungan dalam menghadapi pendidikan untuk anak. Sebagian memilih sekolah mahal yang memiliki fasilitas fantastis dan waktu sekolah yang sangat panjang. Biasanya dari pagi sampai sore.

Dengan sistem sekolah yang full day seperti itu, orang tua merasa sangat terbantu karena mereka bisa fokus bekerja. Ya, saat ini sudah jarang sekali melihat ibu-ibu muda yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Sudah lumrah jika mereka bekerja di berbagai tempat. Selain karena untuk membantu ekonomi keluarga, biasanya mereka juga beralasan sayang sudah sekolah tinggi-tinggi ilmunya nggak dipakai.

Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara (STTN) bekerja sama dengan Komunitas Sahabat Becik Lampung mengadakan acara Play Camp pada tanggal 2-3 September 2023 bertempat di Villa Cozzy, Kemiling, Bandar Lampung. (ME)

Kembali ke masalah sekolah rumah, saya tidak pernah mengatakan sekolah rumah lebih baik dari sekolah formal. Keduanya tentu punya kelebihan dan kekurangan.

Jika kita memilih sekolah formal untuk anak, kita sudah tidak dipusingkan dengan kurikulum, siapa guru yang akan mengajar, atau pelajaran apa saja yang harus diberikan kepada anak. Sejak pagi sampai siang bahkan sore kita bisa menyerahkan anak sepenuhnya kepada pihak sekolah.

Minusnya, anak harus mengikuti semua aturan yang sudah dibuat oleh pihak sekolah termasuk mempelajari semua materi yang diberikan tanpa punya pilihan suka atau tidak suka dengan materi tersebut. Anak-anak yang masuk ke sekolah dengan sistem full day, harus menghabiskan hampir seluruh waktu siang mereka di sekolah. Tiba di rumah, nyaris sudah kehabisan energi untuk melakukan kegiatan lainnya.

Sedang anak-anak yang menjalani sekolah rumah, dari segi waktu jauh bisa lebih fleksibel. Begitu pula dari sisi akademik. Anak-anak ini bisa memutuskan lebih fokus mempelajari hal yang mereka suka. Karena memiliki banyak waktu, mereka juga bisa puas memilih kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan.

Namun, bagi yang sekolah rumah, orang tua tentu saja punya tugas ekstra yang bisa menguras energi dan waktu.

Berbagai Kegiatan di Play Camp

Untuk membantu para orang tua yang menghadapi masalah ini, Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara (STTN) bekerja sama dengan Komunitas Sahabat Becik Lampung mengadakan acara Play Camp pada tanggal 2-3 September 2023 bertempat di Villa Cozzy, Kemiling, Bandar Lampung.

Kegiatan Play Camp ini dilaksanakan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat yang didukung oleh program hibah dari Kemendikbudristek RI.

Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara (STTN) bekerja sama dengan Komunitas Sahabat Becik Lampung mengadakan acara Play Camp pada tanggal 2-3 September 2023 bertempat di Villa Cozzy, Kemiling, Bandar Lampung. (ME)

Sesuai penjelasan Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat STTN, M. Ferdiansyah, terdapat tiga kegiatan yang diikuti oleh orang tua dan anak, yaitu workshop fun math, penguasaan basic life skill, serta pemahaman literasi digital.

Untuk anak-anak, ada juga kegiatan lain berupa outbond dan public speaking. Mereka belajar bagaimana membangun rasa percaya diri dan keberanian. Dalam acara api unggun yang digelar malam harinya, beberapa anak tampil memukau memperlihatkan kemampuan mereka.

Dari kegiatan ini, diharapkan para orang tua khususnya pegiat homeschooling bisa lebih fokus lagi mendampingi putra-putri mereka. (Mada Eliana)

Wahai Para Pria, Jangan Lemah! Belajarlah dari Penderitaan Bung Karno

0
M. Faizi. A (eks)

Penulis: M. Faizzi Ardhitara

pijarkata.com – Saya mengidolakan sosok Bung Karno (Presiden Soekarno) sejak kelas V sekolah dasar (SD), saat saya belajar mata pelajaran IPS bagian Sejarah Indonesia. Tidak hanya Bung Karno, saya juga kagum dengan kisah heroik Jenderal Sudirman yang hidup dengan satu paru-paru.

Lalu kisah Pangeran Diponegoro yang dikhianati oleh rakyat dan patihnya sendiri. Selain itu masih ada banyak lagi kisah para pahlawan yang mungkin kalau ditulis di sini bakal panjang.

Perjuangan serta penderitaan para pejuang itu bisa kita tiru supaya kita bisa menjadi sosok yang kuat dan lebih baik lagi.

Kalian pasti sudah paham bagaimana peran besar dan keberhasilan Bung Karno dalam mencapai kemerdekaan Indonesia. Tapi mungkin banyak yang belum tahu besarnya pengorbanan dan penderitaan yang harus ditanggungnya.

Alasan saya membahasnya, supaya kita sadar (khususnya kaum pria), jika untuk meraih sesuatu yang besar, perlu pengorbanan yang besar pula.

Bung Karno Pernah Dipenjara 3 Kali

Bung Karno harus dipenjara karena niatnya memerdekakan Indonesia. Tapi, tidak cuma sekali atau dua kali, tapi sampai tiga kali!

Pertama kali dipenjara, tahun 1929,  saat masih berusia 28 tahun. Tentara Belanda dengan 50 pasukannya, menyeret bung Karno di pagi buta saat sedang kampanye PNI di Yogyakarta. Beliau dibawa dengan gerbong kereta tanpa jendela.

Akhirnya Bung Karno dimasukkan ke Penjara Banceuy. Penjara yang terkenal seram karena dipakai untuk menahan perampok, begal, dan maling.

Ia bercerita, “begitu aku masuk (penjara), rambutku dipotong pendek sampai hampir gundul dan aku disuruh memakai seragam tahanan berwarna biru dengan nomor di punggungnya.”

Pada saat di penjara, Bung Karno menulis sendiri nota pembelaannya. Judulnya “Indonesia Menggugat”. Ditulis seadanya, beralaskan kaleng tempat kencing dan buang hajat. Sialnya, pembelaan itu nggak bisa menyelamatkan Bung Karno dari vonis 4 tahun penjara.

Setelah 2 tahun, ia dibebaskan karena banyak tuduhan yang tidak terbukti. Tapi tetap, kalian tidak terbayang kan? Bagaimana rasanya berada di dalam penjara selama 2 tahun dan dengan fasilitas seadanya?

Tidak kapok, Bung Karno terus berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Sampai pada tahun 1933 beliau dipenjara lagi. Kali ini diasingkan, dibuang jauh ke Flores. Karena jauh dari Pulau Jawa, nama beliau hampir dilupakan tokoh perjuangan lainnya.

Keluar dari Flores, bung Karno lagi-lagi tetap maju dengan aktivitas politiknya. Akhirnya, beliau ditangkap kembali di tahun 1938. Kali ini hukumannya cukup lama, hampir 4 tahun. Dibuangnya juga cukup jauh, yaitu di Bengkulu. Baru bebas lagi setelah penjajah Belanda angkat kaki, digantikan Jepang.

Setidaknya Bung Karno menghabiskan waktu lebih dari 7 tahun di penjara. Tidak cuma penjara terseram, tapi juga di tanah pengasingan. Jauh dari keluarga, saudara, dan teman seperjuangan!

Tapi semangatnya tidak pernah padam. Tidak kebayang deh kalau waktu itu Bung Karno baper atau galau. Menyerah di penjara. Bisa-bisa, nggak ada negara Indonesia!

Apa Pelajarannya?

Dari sini, kita bisa ambil pelajaran. Buat jadi seorang legenda, tokoh sekelas Bung Karno saja harus mengalami penderitaan yang nggak sebentar. Direndahkan, dibuang, dan dianggap kriminal.

Pelajaran buat kita, kalau mengalami kegagalan, jangan langsung menyerah! Kalau sekarang masih menderita, jangan putus asa. Coba terus, terus, dan terus. Bangkit walau jatuh berkali-kali, seperti yang dilakukan Bung Karno.

Jangan sampai, baru gagal sekali, langsung baper. Baru ditolak sekali, sudah menyerah. Malu bro, sama arwah para pendiri bangsa!

Sepanjang kita punya tujuan mulia dan konsisten memperjuangkannya, kita pasti akhirnya akan menikmati keberhasilan. []

Melihat Pulau Pisang dari Pantai Karundang

0
Pemandangan Pantai Karundang, yang terletak di Desa Way Sindi Utara, Kecamatan Karya Penggawa, Kabupaten Pesisir Barat. (rsd)

pijarkata.com – Jika berkunjung ke Kabupaten Pesisir Barat, tidak ada salahnya memasukkan Pantai Karundang, yang ada di Desa Way Sindi Utara, Kecamatan Karya Penggawa, dalam daftar tempat wisata yang harus dikunjungi.

Selain memiliki pemandangan indah dengan hamparan pasir putih nan eksotis, keunggulan lainnya adalah lokasinya yang berhadapan langsung dengan Pulau Pisang dan Samudra Hindia. Untuk masuknya juga tidak perlu bayar alias gratis.

Lokasi swafoto juga bisa dieksplorasi para pengunjung, karena hampir semua latar belakang pantai sangat instagramable. Lokasinya juga mudah dijangkau, hanya sekitar satu jam dari pusat kota krui.

Pengunjung juga bisa mengajak teman atau keluarga menyeberang ke Pulau Pisang, dengan menyewa perahu dengan biaya Rp20 ribu per orang. Bagaimana? Siap menghabiskan akhir pekan anda di Pantai Karundang?. (rsd)

PUBLIC SPEAKING FOR KIDS

0

MAGANG PUSTAKAWAN CILIK

0

Populer

Post Terakhir