EssaiPlay Camp, Cara Asyik Belajar Luar Rumah

Play Camp, Cara Asyik Belajar Luar Rumah

pijarkata.com – Seorang teman menghubungi saya malam-malam dan menceritakan dia baru saja ribut dengan suaminya. Kali ini keributan mereka katanya lumayan parah.

Masalahnya masih tetap sama dengan masalah yang dia ceritakan beberapa bulan sebelumnya. Mertua atau orang tua suaminya protes karena sampai saat ini anak mereka yang sudah berusia sembilan tahun, tidak sekolah formal dan memilih untuk sekolah rumah. Bahasa kerennya homeschooling.

Teman saya ini, berpikir keluarga suaminya susah bisa menerima keputusannya untuk tidak menyekolahkan si anak di sekolah formal. Dia beralasan, kalau dia tidak mau anaknya stres dengan jadwal belajar full day di beberapa sekolah yang dia datangi. Ada sekolah yang tidak memberlakukan sistem full day tapi dia melihat standar sekolah tersebut jauh di bawah ekspektasinya.

“Aku nggak mau kalau anakku sekolahnya asal-asalan,” ungkapnya yang tidak bersedia namanya disebutkan, karena alasan yang cukup masuk akal.

Sejak awal saya sudah mengatakan, tantangan terbesar dalam menjalankan sekolah rumah ya justru dari orang-orang terdekat kita. Terutama pasangan. Kalau ide sekolah rumah hanya ada di kepala salah satu orang, maka si pasangan biasanya menjadi orang pertama yang akan memberikan penolakan.

Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara (STTN) bekerja sama dengan Komunitas Sahabat Becik Lampung mengadakan acara Play Camp pada tanggal 2-3 September 2023 bertempat di Villa Cozzy, Kemiling, Bandar Lampung. (ME)

Andai urusan dengan pasangan sudah sekapat pun, masih ada kakek dan nenek dari kedua belah pihak yang juga merasa berhak mengurus pendidikan cucu mereka.

Sekolah rumah memang bukan sesuatu yang lumrah di masyarakat kita. Ketika saya sendiri memilih sekolah rumah untuk anak saya hingga dia lulus SD, pihak keluarga langsung bereaksi dengan memberikan pertanyaan, kalau nggak sekolah mau jadi apa? Kalau nggak sekolah, nanti gimana sosialisasinya?

Padahal menurut pengalaman saya, sekolah formal bukan satu-satunya yang bisa menjamin masa depan anak akan baik-baik saja. Sekolah formal pun bukan satu-satunya tempat untuk anak saya bersosialisasi.

Mereka berpikir anak yang tidak sekolah formal itu adalah anak yang bodoh, nakal, pemalas, atau karena orang tuanya yang tidak mampu untuk membiayai. Alasan terakhir ini sama persis seperti yang dialami teman saya.

“Ibuku bilang, sini anakmu Ibu urus kalau kamu nggak bisa biayain sekolahnya. Biar sekolah sama Mbahnya aja. Di sini banyak sekolah negeri murah. Wis nggak usah mikirin apa-apa.” Dia menjelaskan ucapan ibu mertuanya beberapa hari yang lalu.

“Terus kamu jawab apa?”

“Aku diemin aja. Tapi sekarang ini aku pusing, suamiku udah ikut-ikutan bela keluarganya. Dia mau anaknya masuk sekolah formal. Katanya dia udah pusing dengerin omongan keluarganya. Aku juga sebetulnya pusing. Ibuku kan guru, sama kayak mertuaku dikit-dikit nanyain sekolah. Kalau ibuku nggak terlalu sering, soalnya sudah tahu aku pasti bakalan marah. Lah mertuaku iki yang bikin aku mumet. Apalagi kalau suamiku sudah ikut omongan mertua. Mau pecah kepalaku.” Dia bicara hampir tanpa titik koma.

Tugas Ekstra Orangtua pada Sekolah Luar Rumah

Bukan hanya saya dan teman saya. Masih banyak ibu-ibu muda lainnya yang sedang mengalami kebingungan dalam menghadapi pendidikan untuk anak. Sebagian memilih sekolah mahal yang memiliki fasilitas fantastis dan waktu sekolah yang sangat panjang. Biasanya dari pagi sampai sore.

Dengan sistem sekolah yang full day seperti itu, orang tua merasa sangat terbantu karena mereka bisa fokus bekerja. Ya, saat ini sudah jarang sekali melihat ibu-ibu muda yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Sudah lumrah jika mereka bekerja di berbagai tempat. Selain karena untuk membantu ekonomi keluarga, biasanya mereka juga beralasan sayang sudah sekolah tinggi-tinggi ilmunya nggak dipakai.

Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara (STTN) bekerja sama dengan Komunitas Sahabat Becik Lampung mengadakan acara Play Camp pada tanggal 2-3 September 2023 bertempat di Villa Cozzy, Kemiling, Bandar Lampung. (ME)

Kembali ke masalah sekolah rumah, saya tidak pernah mengatakan sekolah rumah lebih baik dari sekolah formal. Keduanya tentu punya kelebihan dan kekurangan.

Jika kita memilih sekolah formal untuk anak, kita sudah tidak dipusingkan dengan kurikulum, siapa guru yang akan mengajar, atau pelajaran apa saja yang harus diberikan kepada anak. Sejak pagi sampai siang bahkan sore kita bisa menyerahkan anak sepenuhnya kepada pihak sekolah.

Minusnya, anak harus mengikuti semua aturan yang sudah dibuat oleh pihak sekolah termasuk mempelajari semua materi yang diberikan tanpa punya pilihan suka atau tidak suka dengan materi tersebut. Anak-anak yang masuk ke sekolah dengan sistem full day, harus menghabiskan hampir seluruh waktu siang mereka di sekolah. Tiba di rumah, nyaris sudah kehabisan energi untuk melakukan kegiatan lainnya.

Sedang anak-anak yang menjalani sekolah rumah, dari segi waktu jauh bisa lebih fleksibel. Begitu pula dari sisi akademik. Anak-anak ini bisa memutuskan lebih fokus mempelajari hal yang mereka suka. Karena memiliki banyak waktu, mereka juga bisa puas memilih kegiatan apa saja yang akan mereka lakukan.

Namun, bagi yang sekolah rumah, orang tua tentu saja punya tugas ekstra yang bisa menguras energi dan waktu.

Berbagai Kegiatan di Play Camp

Untuk membantu para orang tua yang menghadapi masalah ini, Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara (STTN) bekerja sama dengan Komunitas Sahabat Becik Lampung mengadakan acara Play Camp pada tanggal 2-3 September 2023 bertempat di Villa Cozzy, Kemiling, Bandar Lampung.

Kegiatan Play Camp ini dilaksanakan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat yang didukung oleh program hibah dari Kemendikbudristek RI.

Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara (STTN) bekerja sama dengan Komunitas Sahabat Becik Lampung mengadakan acara Play Camp pada tanggal 2-3 September 2023 bertempat di Villa Cozzy, Kemiling, Bandar Lampung. (ME)

Sesuai penjelasan Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat STTN, M. Ferdiansyah, terdapat tiga kegiatan yang diikuti oleh orang tua dan anak, yaitu workshop fun math, penguasaan basic life skill, serta pemahaman literasi digital.

Untuk anak-anak, ada juga kegiatan lain berupa outbond dan public speaking. Mereka belajar bagaimana membangun rasa percaya diri dan keberanian. Dalam acara api unggun yang digelar malam harinya, beberapa anak tampil memukau memperlihatkan kemampuan mereka.

Dari kegiatan ini, diharapkan para orang tua khususnya pegiat homeschooling bisa lebih fokus lagi mendampingi putra-putri mereka. (Mada Eliana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Jangan Lewatkan

PUBLIC SPEAKING FOR KIDS

0

MAGANG PUSTAKAWAN CILIK

0

Post Terakhir

Populer

More article